Selasa, 09 Maret 2021

 


setiap perbuatan baik akan diganjar oleh Allah dengan pahala melimpah, hal tersebut tentunya harus dibarengi dengan Syarat-syarat sebagaimana disebutkan yaitu dilakukan dengan keikhlasan kepada Allah dan dicontohkan oleh nabi Muhammad saw. salah satu dari sekian banyak amal baik atau amal sholeh yang digambarkan di dalam hadis dan al-qur'an adalah bersedekah , ya bersedekah, Allah Berfirman :

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan (sebagian harta) yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali Imron: 92)

bersedekah memiliki keutamaan yang luar biasa, salah satunya dapat menolong seseorang  terhindah dari siksa kubur, namun sebagaian dari kita banyak yang terfokus bahwa sedekah hanya dikhususkan kepada harta saja, padahal sebenarnya sedekah dapat dilakukan dengan apa saja sesuai kemampuan seseorang di dalam melakoninya, berikut beberapa sedekah yang dapat dilakukan tanpa menggunakan harta :

1. Menyediakan hidangan berbuka

Tak perlu menyiapkan sejumlah uang, menyiapkan hidangan berbuka bagi orang yang tengah berpuasa, juga termasuk pahala yang amat besar, lho, Sahabat umma!

Dengan begitu dapat memperoleh pahala orang yang telah berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala bagi yang berpuasa.

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

2. Membantu orang yang kesulitan

Rasulullah SAW bersabda: "Setiap ruas tulang manusia wajib bersedekah setiap hari, di mana matahari terbit".

Beliau melanjutkan, "Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang (yang kesulitan menaikkan barang) pada hewan tunggangannya, lalu ia membantu menaikkannya ke atas punggung hewan tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya adalah sedekah."

Sahabat umma juga bisa turut membantu menyiapkan makanan sahur bagi mereka yang benar membutuhkan. Terutama bagi orang-orang seperti anak kos, perantau, atau orang yang jauh dari keluarganya agak kesulitan untuk mendapatkan makanan sahur.

3. Menyampaikan ilmu

Setiap muslim adalah da’i, selemah-lemahnya adalah menjadi da’i bagi dirinya sendiri.

Untuk menyampaikan kebaikan tidak harus menunggu menjadi sempurna, dan Ramadan menjadi momen yang sangat tepat bagi seseorang yang ingin belajar memperbaiki diri untuk berbagi ilmu kepada sesama.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat. (HR Bukhari No 3202)

4. Mengajarkan Alquran dan mengajak orang untuk tadarus bersama

Menjadi shaleh saja kadang tidak cukup. Perlu mengajak orang-orang sekitar juga untuk dapat menjadi hamba-Nya yang lebih bermanfaat.

Mengajarkan Alquran dapat menjadi lahan pahala juga. Mengajarkan anak-anak atau orang dewasa untuk belajar tajwid misalnya.

Dari Utsman bin ‘Affan ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling utama di antara kalian adalah seorang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari No 4640)

5. Tersenyum manis dan menciptakan kebahagiaan bagi orang sekitar

Rasulullah menyebutkan bentuk sedekah yang lain seperti membaca tahmid, tasbih, tahlil, menyuruh kebaikan, mencegah kemungkaran, dan berhubungan badan dengan pasangan yang halal. Bahkan ada sedekah yang sangat mudah untuk kita lakukan, tanpa perlu banyak mengeluarkan tenaga. Kita hanya perlu menarik bibir ke samping sedikit sehingga tercipta senyum yang manis. Rasulullah bersabda,

تبسمك في وجه اخيك لك صدقة

“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)

 Di Nukil dari : ( https://umma.id/post/5-bentuk-sedekah-selain-harta ....)

 

  


Kamis, 14 Januari 2021

 Bismillahi Rohmani Rohim, Al hamdulillah segala puji bagi Allah yg telah memberikan kita nikmat yang tak terhitung dan tak ternilai, salawat dan salam kita haturkan kepada rosulul amin sallahu alaihi wasalam, Ikhwani Al aizza , sudah hampir satu tahun kita terjajah oleh wabah Corona, kita terpenjara dengan tentara Allah yang tak terlihat ini, terlepas dari beragam komentar yang berkembang saat ini, ana sama sekali tidak memperdulikan polemik ini, namun yang menjadi fokus kita harusnya setiap apa yang terjadi hendaknya dijadikan ibroh bagi kita agar semakin takwa dan beriman kepada Allah, karena tidaklah sebuah musibah ditimpahkan kepada suatu kaum karena adanya hal-hal yang harus menjadi prioritas batin kita untuk menyadarinya.

Ikhwany, pemerintah bukan diam menghadapi wabah ini, bahkan sudah banyak harta dan nyawa dikorbankan oleh negara untuk menyelesaikan wabah ini, dan baru-baru ini muncul Khabar akan adanya vaksin untuk mencegah penyebaran virus ini, dan rasanya bukan kapasitas kita untuk menghukumi mengenai



status vaksin tersebut, namun tentunya semua itu dikembalikan kepada masing-masing dari kita, karena keyakinan itu menjadi kunci peningkatan imun tubuh kita untuk menghalau virus ini.

Kita harus fahami dahulu bahwa sebenarnya di dalam Islam kita sudah terlebih dahulu diajarkan untuk memvaksin jiwa kita dengan vaksin terbaik bagi dunia dan akhirat, vaksin yang diajarkan melalui lisanul amin Rosulullah Sallahu alaihi wasalam, berikut vaksin terbaik bagi dunia dan akhirat seorang Muslim :

1. Memperbanyak Dzikirullah (Thaa-Haa: 130).) 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

2. Sholat dan berdzikir

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ…..

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

3. Banyak membaca qur'an

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS. Al Anfal : 2)

4. Sabar dan ikhlas

Baqarah ayat 155-157:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).

5. Berprasangka baik kepada Allah

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqarah: 186)

6. Banyak Bersyukur 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Ke 6 hal tersebut di atas jika kita laksanakan maka kita akan mendapatkan kekuatan lahir dan batin dan selamat dunia akhirat.


Selasa, 29 Desember 2020

 Merusak rumah tangga seorang muslim disebut dengan “takhbib”. Hal ini merupakan dosa yang sangat besar, selain ada ancaman khusus, ia juga telah membantu Iblis untuk mensukseskan programnya menyesatkan manusia.

Bentuk “takhbib” bisa berupa:

Menggoda salah satu pasangan pasutri yang sah dengan mengajak berzina, baik zina mata, tangan maupun zina hati sehingga ia menjadi benci dengan pasangan sahnya

Menggoda istri orang lain dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang semu, misalnya melalui SMS, WA atau inbox sosial media. Sang istri pun terpengaruh karena selama ini mungkin suaminya sibuk mencari nafkah di kantor seharian.


Bisa juga bentuknya menggoda suami orang lain dan mengajaknya berzina atau di zaman ini di kenal dengan istilah “Pelakor” (Perebut Laki Orang).


Mengompor-ngompori salah satu pasutri agar membenci pasangannya

Semisalnya sering menyebut-nyebut kekurangan suaminya dengan membandingkan dengan dirinya atau suami orang lain. Padahal suaminya sangat baik dan bertanggung jawab, hanya saja pasti ada kekurangannya.

Ancaman dosa melakukan “takhbib” terdapat pada hadits berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Bukan bagian dari kami, Orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani)

Ad-Dzahabi menjelaskan yaitu merusak hati wanita terhadap suaminya, beliau berkata,

”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (Al-Kabair, hal. 209).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.”( HR. Ahmad, shahih)

Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dijelaskan bahwa merusak di sini adalah mengompor-ngimpori untuk minta cerai atau menyebabkannya (mengompor-ngompori secara tidak langsung).

“Maksud merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melalukan dosa yang sangat besar.”

Semoga kita dijauhkan dari hal tersebut
https://umma.id/article/share/id/1002/235623

Minggu, 27 Desember 2020

 Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan perbuatan baiknya sebagaimana ia menyembunyikan perbuatan jahatnya. – Ibn Al-Qayyim.

Kalimat yang ditulis Ibnu Al-Qoyyim di atas merupakan gambaran bahwa sega perbuatan dan perilaku manusia ditentukan seberapa ikhlasnya seseorang menyandarkan segalanya kepada Allah

Ikhlas adalah kunci utama sebuah kebahagiaan, ikhlas tidak bisa dilihat atau digambarkan secara kasat mata, karena keikhlasan merupakan bagian terdalam dari jiwa manusia yang berhubungan erat dengan keimanan, hal ini sebagaimana di sebutkan dalam sebuah hadist 

اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ, وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى, فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا, أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا, فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ 

Sesungguhnya setiap amalan disertai niat. Dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia berhijrah kepadanya.[1] 

Al Khatthabi berkata, “Makna hadits ini, keabsahan amalan dan keberadaan konsekuensinya ditentukan oleh niatnya. Jadi, sesungguhnya niatlah yang mengarahkan amalan.”[2] 

Al-Hâfizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Makna al-a’mâlu bin niyât adalah amalan itu menjadi baik atau rusak, diterima atau ditolak, diberi pahala atau tidak, tergantung niatnya. Jadi, hadits ini menjelaskan tentang hukum syar’i yaitu baik buruknya suatu amalan terganutung baik dan buruknya niat.”[3] Oleh karena itulah, para Ulama salaf mengagungkan kedudukan hadits ini dan menyadari keagungan kandungannya. Dikisahkan, suatu ketika Yazîd bin Hârun menyebutkan hadits ini di hadapan Imam Ahmad rahimahullah, maka imam Ahmad berkata kepadanya, “Wahai Abu Khâlid leher ini (menjadi taruhannya).”[4]
(https://almanhaj.or.id/4258-ikhlas-dan-keutamaannya.html.).

Ikhlas ibarat biibit yang kita semai (ditanam semenjak kecil), yang setelah besar akan kita panen dengan hasil dan buah yang melimpah dan berasa lezat, itulah ikhlas, dan Allah subhanahuwat a'ala berfirman dalam surat al-Bayyinah 


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus [al-Bayyinah/98:5]




Selasa, 01 Desember 2020

     semua orang tua mengharapkan anaknya enjadi sosok yang dapat membanggakan orang tuanya terutama hal yang berkenaan dengan urusan dunia, mereka berlomba-lomba menciptakan anaknya sebagai mesin penghasil kebanggaan orang tuanya tanpa pernah berfikir mengenai akhirat mereka, padahal sebenarnya akhirat merupakan sandaran terakhir dari bahtera kehidupan ini, dan anak adalah  aset terpenting dari tiket kita menuju surga Allah, bagaimana mungkin seorang akan melenggang masuk surga tanpa diminta pertanggungjawabnnya terhadap keluarga dan anak-anaknya, nabi Sallahu alaihi wasalam bersabda :

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ)

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).

 dengan demikian patutlah dicermati apa saja kah hal yang banyak berpengaruh terhadap pskologi ketaan anak kepada Allah. 

Beberapa hal yang banyak mempengaruhi psikologi anak diantaranya :

·         Contoh dari orang tua yang senantiasa melaksanakan ibadah

Nabi Muahammad sallahu 'alaihi wasalam sebagai nabiyullah dan sekaligus sebagai guru bagi manusia dimuka bumi ini, yang telah tercatat sebagai sosok paling berpengaruh di dunia, pengakuan semacam ini bukan timbul  dengan sendirinya atau menjadi pengakuan sefihak sejumlah orang ,namun justru halitu timbul dari musuh islam, mereka mengakui keberhasilan dakwah yang dibawa oleh seorang nabi umiyyin, bahkan sampaihari ini islammenjadiagama terbanyakdi muka bumi,halini tidaklain karena systematika pendidikan rosul yang sangat mengena dan berkesan bagi umatnya, dan kunci semua ini berawal dari uswah,atau suritauladan yang dicontohkan langsung olehnya, Allah berfirman :

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh [al-Ahzâb/33:21


 Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Ayat yang mulia ini merupakan fondasi/dalil yang agung dalam meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau. Orang-orang diperintahkan meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Ahzâb, dalam kesabaran, usaha bersabar, istiqomah, perjuangan, dan penantian beliau terhadap pertolongan dari Rabbnya. Semoga sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada beliau sampai hari Pembalasan”. [Tafsir Ibnu Katsir, 6/391, penerbit: Daru Thayyibah]



maka jelaslah bagi kita ketika kita bahwa keberhasin pendidikan ditentukan dengan jiwa pendidiknya,jika berharap anak didik kita menjadi seorang yang baik dan rajin beribadah maka mulailah dengan memberikan contoh secara angsung kepada nya agar mudah meresapdalam fikiran mereka  

·         Lingkungan Keluarga

selain memberikan contoh dalam keluarga hal yang tak kalah mempengaruhi ketaatan anak adalah kebiasaan dalam keluarga, mulailah dengan menjalankan segala perkara ibadah di dalam keluarga, misalnya melaksanakan sholat berjamaah di dalam keluarga, mengajak anak-anak ikut dalam puasa sunnah, buat peraturan dilarang minum berdiri dan lain-lainnya, sehingga ini akan menanamkan jiwa yang cinta terhadap perintah dan larangan Allah tanpa terpaksa, atau kita bisa senantiasa memperdengarkan kumandang murottal di dalamrumah sesering mungkin sehingga senandung anak akan berubah menjadi senandung al-qur'an.  


 

·         Mulai dari Langkah Kecil.

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan salat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.”

hadis di atas sering dijadikan sandaran bagi para orang tua dan pendidik akan bolehnya memukul anak dalam mendidik, namun sebenarnya tidak sesederhana itu menyimpulkan kandungan hadis tersebut, karena proses memukul yang dimaksudkan di dalam hadis tersebut harus terlebih dahulu melalui proses tabligh atau penyampaian kepada anak, atau yang lebih mudahnya orang tua senantiasa memerintahkan anaknya untuk solat sejak usia dini artinya mereka memeritahkan anaknya untuk sholat semenjak usia mereka dibawah 7 tahun, sehingga di usia 7 tahun  mereka sudah terbiasa melaksanakan shalat dan memahami akan pentingnya shalat, dan memukul ketika meninggalkan shalat di usia 10 tahun



adalah ketika si anak melawan dan malas melaksanakan shalat padahal sudah diperintahkan dan dinasehati dengan bahasa yang baik dan lembut, dan perlu di catat kategoro memukulyang diperbolehkan adalh memukul duna jarhin “ tanpa melukai dan bukan di daerah terlarang untukmemukul seperti wajah,kepala dll.

·         Kenalkan pada Allah dan Rosul

Di zaman yang serba digital sekarang ini ,rasanya bukan hal yang sulit kita mengenalkan Allah dan rosulnya, karena semuanya sudah dapat diakses dengan perangkat genggam kita melalui internet, tidak perlu membaca atau mencatat, tapi anak hanya tinggal melihat dan mendengarkan, mengelkan akan kebesaran Allah dengan visualisasi multimedia cukup memberikan efek yang baik, karena dengan melihat dan mendengar pemahaman anak akan cepat menyerap, namun perlu di ingat dalam hal ini perlunya memilih dan mencermati apa yang menjadi menu tontonannya agar tidak terjadi salah dalamb memahamkan kepada anak. Begitu juga halnya dengan mengenalkan rosulullah kepada mereka, nabi Sallahu alaihi wasalam bersabda :

 

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ 

“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (QS Ibrahim: 40)


Jumat, 20 November 2020


Bismillah wal hamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala rasulillaah, wa ba’du.

Kita sedikit mengulas tentang hukum ulang tahun. Walaupun alhamdulillah, banyak tulisan dan ceramah para ustadz, yang menjelaskan tentang hukum ulang tahun. Tapi tidak mengapa kita singgung kembali, sebagai pengantar menemukan jawaban pertanyaan di atas.

Hukum ulang tahun dalam Islam adalah haram. Karena dalam ulang tahun, mengandung unsur menyerupai (tasyabbuh) dengan orang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dengan keras,


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud, shahih)

Sekarang kita coba menyentuh inti dari jawaban pertanyaan di atas:

Jika ulang tahun yang dirayakan sebagai perayaan biasa (diniati mubah) saja, artinya tidak ada niat ibadah, hukumnya haram, terlebih jika ulang tahun diniatkan sebagai ibadah, lebih parah keharamannya. Karena ulang tahun seperti ini telah:

Pertama, menodai ibadah dengan perbuatan tasyabbuh dengan orang kafir.
Dan jelas, bahwa dosa yang dikerjakan dalam saat-saat ibadah, lebih besar dosanya daripada di luar momentum ibadah.

Kedua, terjatuh pada perbuatan bid’ah.
Karena saat ulang tahun diniatkan sebagai ibadah, maka kegiatan ibadah yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bernilai bid’ah. Merayakan ulang tahun apakah ada tuntunannya dari Nabi? Dari Abu Bakr As-Shidiq? Umar bin Khattab? ‘Utsman bin Affan? Ali bin Abi Thalib dan sahabat Nabi lainnya?

63 tahun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia ini. Namun, tak pernah ada riwayat yang menjelaskan beliau merayakan ulang tahun.

Adapun soal puasa sunah senin, Nabi lakukan bukan karena Nabi merayakan ulang tahunnya. Tapi dalam rangka ibadah, mengingat mulianya hari itu. Hari yang dipilih Allah sebagai hari beliau menerima wahyu dan diangkatnya amal.

Beliau bersabda,

فيه ولدت وفيه أنزل علي

“Di hari Senin itu aku dilahirkan dan aku mendapatkan wahyu.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda,

تعرض الأعمال يوم الإثنين والخميس، فأحب أن يعرض عملي وأنا صائم

“Amal ibadah dilaporkan kepada Allah setiap hari Senin dan Kamis. Aku senang jika saat amalku sedang dilaporkan, aku sedang kondisi puasa.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Sehingga akibatnya, terkena ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan amal (ibadah) yang bukan berasal dari (ajaran) kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah (urusan agama) yang diada-adakan, setiap (urusan agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An-Nasa’i, shahih)

Saat ulang tahun diungkapkan/dirayakan dengan doa baarakallah fii umrik (semoga Allah memberkahi umurmu), itu lebih kental nilai mubahnya atau ibadahnya? Tentu nilai ibadahnya. Karena nuansa islami dan semua muslim paham, bahwa doa adalah ibadah. Sehingga lengkaplah keburukan pada ulang tahun yang diyakini lebih ‘islami’ ini, keburukan tasyabbuh yang dikemas dengan ibadah. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tasyabbuh kena, bid’ah pun kena.

Maka, bungkus itu tidak merubah hakikat. Seperti riba yang disebut bunga. Atau suap yang dibahaskan sedekah. Zina yang disebut suka sama suka. Hukumnya tetap sama, haram.

Sama juga seperti ulang tahun yang dibahasakan “baarakallah fii Umrik”.
Fenomena ini pernah disinggung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ليشرَبنَّ ناسٌ من أمَّتي الخمرَ يُسمُّونَها بغيرِ اسمِه

“Di antara umatku benar-benar akan ada orang yang minum khamr (minuman keras), kemudian ia namai khamr dengan nama selain khamr.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, shahih)

Benar apa yang dikatakan oleh sebuah kaidah,

الأسماء لا تغيِّر الحقائق

“Nama/sebutan tidak merubah hakikat.”

Walhamdulillahi rabbil’aalamiin.

***

Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc. (Pengajar di PP Hamalatul Quran DIY & Pengasuh TheHumairo.com)





Selasa, 17 November 2020

 Azhar Bin Seff (ABS)

```≈ SHOLAT JENAZAH ≈```


Melaksanakan sholat jenazah hukumnya Fardhu Kifayah. Sholat Jenazah sangat bermanfaat buat yang mengerjakannya dan buat si mayyit yang disholatkan. Diantara keutamaan shalat jenazah disebutkan didalam beberapa hadits berikut ini :



≈Pertama: Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” 



Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.”

(📚HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)


Dalam riwayat Muslim disebutkan.

“Barangsiapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(📚HR. Muslim no. 945)


≈Kedua: Dari Kuraib, ia berkata,

“Anak ‘Abdullah bin ‘Abbas di Qudaid atau di ‘Usfan meninggal dunia. Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Wahai Kuraib (bekas budak Ibnu ‘Abbas), lihat berapa banyak manusia yang menyolati jenazahnya.” Kuraib berkata, “Aku keluar, ternyata orang-orang sudah berkumpul dan aku mengabarkan pada mereka pertanyaan Ibnu ‘Abbas tadi. Lantas mereka menjawab, “Ada 40 orang”. Kuraib berkata, “Baik kalau begitu.” Ibnu ‘Abbas lantas berkata, “Keluarkan mayit tersebut. Karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (do’a) mereka untuknya.”

(📚HR. Muslim no. 948)


≈Ketiga: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

“Tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenazah) oleh sekelompok kaum muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafa’at (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafa’at (do’a mereka) akan diperkenankan.”

(📚HR. Muslim no. 947)


≈Keempat: Dari Malik bin Hubairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan do’a mereka akan dikabulkan (agar si mayyit mendapatkan surga dengan Rahmat ALLAH ).”

(📚HR. Tirmidzi no. 1028 dan Abu Daud no. 3166. Imam Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ 5/212 bahwa hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini derajatnya hasan)


*Wallahu a'lam*  ( ditulis oleh Ustad Azhar Seff, MA)

_Semoga bermanfaat dan dapat di amalkan amalan ini._



📭Silakan disebarluaskan, semoga menjadi bernilai pahala sebagai upaya ta'awun dalam dakwah.


Senin, 16 November 2020

 segala puji  bagi Allah Tuhan semesta Alam, yang banyak memberikan rahmat dan barokah kepada hambaNya, tak terbendung dan tak terhitung jumlahnya, namun sangat sedikit dari hamba Allah yang mau mensyukurinya, hal ini kontras dengan apa yang digambarkan Allah di dalam Al-Qur'an  :

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’: 13).

Ibnu Katsir berkata,

إخبار عن الواقع

“Yang dikabarkan ini sesuai kenyataan.” Artinya, sedikit sekali yang mau bersyukur.

Syaikh As Sa’di berkata,

فأكثرهم، لم يشكروا اللّه تعالى على ما أولاهم من نعمه، ودفع عنهم من النقم.

“Banyak sekali memang yang tidak mau bersyukur pada Allah Ta’ala atas nikmat harta yang diberi dan juga atas nikmat dihilangkan dari musibah.”

Syaikh Abu Bakr Al Jazairi berkata,

هذا إخبار بواقع وصدق الله العظيم الشاكرون لله على نعمه قليل وفي كل زمان ومكان وذلك لإِستيلاء الغفلة على القلوب من جهة ولجهل الناس بربهم وإنعامه من جهة أخرى

“Ini adalah pengkhabaran yang sesuai kenyataan. Sungguh Maha Benar Allah. Sungguh yang benar-benar mensyukuri nikmat Allah amatlah sedikit di setiap waktu dan tempat. Kebanyakan berada dalam hati yang lalai, di sisi lain karena begitu jahil terhadap Rabbnya.”

 di dalam ayat dan keterangan di atas menyatakan dengan jelas bahwa pada dasarnya manusia jarang sekali yang bersyukur bahkan mereka cenderung mengeluh dan merasa terdzolimi hidupnya ketika diberikan cobaan yang menyengsarakan kedudukan dan keadaannya, Abu Bakar Siddiq Rohimahullah berkata : 

"Siapa yang menjauhkan diri dari sifat suka mengeluh maka berarti ia mengundang kebahagiaan."

oleh karenanya sewajarnya sebagai seorang muslim yang bertaqwa kepada Allah senantiasa mendahukan HUSNU DZON nya kepada Allah melebihi akalnya, karena setiap apapun yang terjadi dalam hidup ini tak lain karena keadilan Allah semata. 


Menabur cinta demi memanen surga adalah langkah terbaik dilakukan seorang hamba, menggali potensi sabar dengan banyak bersyukur dengan apa yang telah diterimanya, karena sebanyak apapun harta yang didapat akan ternilai kecil jika dibarengi dengan mengeluh dan menggerutu, sebuah prilaku bijak ketika dihadapkan dalam keadaan sempit adalah berdoa dan tetap menjaga solatnya, Allah berfirman :

 وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

 "Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya :

Melalui firman-Nya ini, Allah swt. menyuruh para hamba-Nya untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat yang mereka dambakan, dengan cara menjadikan kesabaran dan shalat sebagai penolong.

Sebagaimana yang dikatakan Muqatil bin Hayyan dalam tafsirnya mengenai ayat ini, “Hendaklah kalian mengejar kehidupan akhirat dengan cara menjadikan kesabaran dan mengerjakan berbagai kebajikan dan shalat sebagai penolong.”

Menurut Mujahid yang dimaksud dengan kesabaran adalah shyam (puasa). Al-Qurthubi dan ulama lainnya mengatakan, “Oleh karena itu bulan Ramadlan dikatakan sebagai bulan kesabaran.”

Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud sabar dalam ayat di atas adalah menahan diri dari perbuatan maksiat karena disebutkan bersama dengan berbagai macam pelaksanaan ibadah, yang paling utama adalah ibadah shalat.

Dari Umar bin Khaththab, ia berkata: “Sabar itu ada dua, sabar ketika mendapat musibah adalah baik, dan lebih baik lagi adalah bersabar dalam menahan diri dari mengerjakan apa yang diharamkan Allah.

Hal yang mirip dengan ucapan Umar bin Khaththab juga diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri.

Ibnul Mubarak meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, katanya, “Kesabaran itu adalah pengaduan hamba kepada Allah atas apa yang menimpanya, dan mengharap keridlaan dari sisi-Nya dan menghendaki pahala-Nya. Terkadang seseorang merasa cemas tetapi ia tetap tegar, tidak terlihat darinya kecuali kesabaran.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman, katanya, “Rasulullah saw. jika ditimpa suatu masalah, maka segera shalat.” (HR Abu Daud)

tanamkan cinta kepada Allah, pupuklah dengan sholat dan kesabaran ,sehingga pada akhirnya kita akan memetik hasil panen kita di surga kelak, jaga sholat dan kesabaran semoga dengannya akan membawa kita menjadi hamba Nya yang Sholihin dan rosyidin....... amiiin (aboe azka)



Jumat, 13 November 2020

Sholat Sunnah Rawaatib adalah shalat-shalat sunnah yang kedudukannya sebagai pendamping sholat Fardhu, kerena sholat ini rutin dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ( selama beliau tidak melakukan Jamak Sholat dan Qoshor Sholat ) , maka sholat ini disebut sholat Sunnah Rawaatib


Di antara hadits yang menunjukkan keutamaan shalat sunah Rawâtib secara umum, ialah hadits Ummu Habîbah, yang berbunyi:


مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ


Tidaklah seorang muslim shalat karena Allah setiap hari dua belas raka’at shalat sunnah, bukan wajib, kecuali akan Allah membangun untuknya sebuah rumah di surga. 


(HR Muslim, kitab Shalat al-Musâfir wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah Qablal-Farâ-idh wa Ba’daha, no. 1199)


Jumlah raka’at ini dijelaskan dalam riwayat at-Tirmidzi dan an-Nasâ-i, dari hadits Ummu Habibah sendiri, yang berbunyi:


قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ


Ummu Habibah berkata,”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:’Barang siapa yang shalat dua belas raka’at maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga; empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at setelahnya, dua raka’at setalah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya`, dan dua raka’at sebelum shalat Subuh’.”


Dalam riwayat lain dengan lafazh :


مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ


Barang siapa yang terus-menerus melakukan shalat dua belas raka’at, maka Allah membangunkan baginya sebuah rumah di surga. 

(HR An-Nasa’i no. 1804 dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i (Lihat no. 1804, 261 dan 1696))


Kesimpulan :

Jumlah Sholat Sunnah Rawaatib dua belas rakaat

-- 2 Rakaat Qobliyah Subuh

-- 4 Rakaat Qobliyah Dhuhur 

-- 2 Rakaat Ba'diyah Dhuhur 

-- 2 Rakaat Ba'diyah Magrib 

-- 2 Rakaat Ba'diyah Isya 


Wallahu a'lam 


Semoga bermanfaat


Ditulis oleh ABS


 

Hadits dari  ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, 


جَاءَتْنِى امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِى فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِى شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ »


“Ada seorang wanita yang datang menemuiku dengan membawa dua anak perempuannya. Dia meminta-minta kepadaku, namun aku tidak mempunyai apapun kecuali sebutir kurma. Lalu aku berikan sebutir kurma tersebut untuknya. Wanita itu menerima kurma tersebut dan membaginya menjadi dua untuk diberikan kepada kedua putrinya, sementara dia sendiri tidak ikut memakannya. Kemudian wanita itu bangkit dan keluar ( dari rumahku ) bersama dua putrinya tadi. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan peristiwa tadi kepada beliau, maka Nabi


shallallhu ‘alaii wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diuji dengan dianugerahkan anak-anak perempuan, kemudia dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalangnya dari siksa api neraka” (H.R Muslim 2629)


Kehadiran anak dalam rumah tangga muslim merupakan nikmat yang besar dari Allah Ta’ala. Namun, sebagian orang ada yang lebih mendambakan kehadiran anak laki-laki daripada anak perempuan. Anak laki-laki dianggap lebih mulia daripada anak perempuan. Mereka bangga dan bergembira tatakala dikaruniai anak laki-laki. Sebaliknya, bagi sebagian orang kehadiran anak perempuan merupakan aib dan dianggap bencana. Mereka sedih dan kecewa jika dikaruniai anak perempuan. Padahal kehadiran anak perempuan juga termasuk nikmat dari Allah. Bahkan Islam secara khusus menjelaskan tentang keutamaan anak perempuan dan ganjaran bagi orangtua yang memelihara dan mendidik anak-anak perempuan mereka.


Bahkan Al Imam Muslim rahimahullah secara khusus membuat sebuah bab dalam kitab shahihnya dengan judul 


(باب فَضْلِ الإِحْسَانِ إِلَى الْبَنَاتِ) 


“Keutamaan Berbuat

 Baik kepada Anak-Anak Perempuan”.


Hadits dari Ibunda 'Aisyah tadi menjelaskan tentang hak anak perempuan. Karena pada umumnya anak perempuan lemah dalam memenuhi kebutuhan pribadinya.

Berbeda dengan laki-laki secara umumnya , secara fisik lebih kuat, lebih cair dalam berfikir, mampu memenuhi kebutuhannya.


Dari hadits ini kita dapat mengambil pelajaran sebagai berikut 

📍Orang yang sangat membutuhkan diperbolehkan meminta-minta. Seperti yang dilakukan oleh ibu dari dua anak perempuan tadi kepada Aisyah RA

📍Sebaiknya dan utamanya bersedekah dengan apa yang ada dan sesuai kemampuan, baik sedekahnya sedikit ataupun banyak. Seperti yang dilakukan oleh Aisyah RA, dengan sebutir kurma. 

📍Janganlah meremehkan sedekah yang dianggap sedikit


📍Diperbolehkan menceritakan kebaikan yang dilakukan, selama tidak bertujuan untuk riya dan membanggakan diri dan bukan untuk mengungkit ungkit pemberian. 

Seperti yang dilakukan oleh Ummul Mukminin Aisyah RA dalam bercerita kepada Rasulullah tentang wanita itu dan kedua putrinya.


📍Anak perempuan merupakan ujian bagi orangtua. Sebagian orang tidak suka dengan kehadiran anak perempuan dan sangat bergembira ketika memiliki anak laki-laki. Oleh karena itu kehadiran anak-anak perempuan dianggap sebagai ujian. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Anak perempuan disebut sebagai ibtilaa’ (ujian) karena umumnya manusia tidak menyukai mereka”. 

Hal ini juga sebagaimana Allah Ta’ala firmankan :


وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأُنثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاء مَا يَحْكُمُونَ


“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah , Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu “ 

(An Nahl:58)


📍Sesungguhnya menyayangi anak perempuan dan berbuat baik kepadanya serta mengayominya akan mendapatkan ganjaran surga dan terhindar dari siksa api neraka.


➖Diriwayatkan juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,


جَاءَتْنِى مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِى كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا فَأَعْجَبَنِى شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِى صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ »


“Seorang wanita miskin datang kepadaku dengan membawa dua anak perempuannya, lalu  aku memberinya tiga buah kurma. Kemudian dia memberi untuk anaknya masing-masing satu buah kurma, dan satu kurma hendak dia masukkan ke mulutnya untuk dimakan sendiri. Namun kedua anaknya meminta kurma tersebut. Maka si ibu pun membagi dua kurma yang semula hendak dia makan untuk diberikan kepada kedua anaknya. Peristiwa itu membuatku takjub sehingga aku ceritakan perbuatan wanita tadi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, : Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka” (H.R Muslim 2630)


📍Orang tua yang  mengayomi dan mentarbiyah anak perempuan mereka secara baik, akan selalu berdekatan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat.


Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 


مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ


“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim 2631)


Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan kita keturunan yang shalih dan shalihah, berbakti kepada kedua orangtua dan bermanfaat buat ISLAM dan kaum Muslimin 


Wallahul musta’an. 


Ditulis oleh ABS


dapatkan update data terbaru di aplikasi

dapatkan update data terbaru di aplikasi
scan kode QR dan install di hp android

Keutamaan basmalah.... Bacalah

Yayasan Mabsuth Islam Mandiri

Yayasan Mabsuth Islam Mandiri

Al-Mabsuth

Categories


Berita Islam Hari Ini

Teknologi

Serba Serbi

Politik

Keluh Kesah Nabi Zakaria

Lahdhoh

HayyaAlasSholah

HayyaAlasSholah

Jadwal Shalat


jadwal-sholat

sekilas

Ustdz Bilal Bajri

Ustadz Fuad Baswedan

Rahasia dibalik Istigfar

Ustad Zulfi Askar

(Allah Yarham) Ust Lutfi YusufDegel

Ustad Azhar Seff

Dhoef

Flag Counter

Usaha dan kreasi

AHLAN WASAHLAN

AHLAN WASAHLAN

Popular Posts

Gisoh wa Rahat